“Namaku Obin..”, “halo…aku Simen.”. Ia begitu ramah membalas sapaanku dan membuatku semakin berdebar. Memang pantas kalau namanya Simen, karena wajahnya setampan salah satu anggota kelompok F4, artis terkenal asal Taiwan. Namanya pun serupa, setidaknya serupa dengan nama tokoh yang diperankannya dalam film seri Meteor Garden. ”ehhmmmm....”, malu rasanya karena ketahuan melamun dihadapan Simen, tapi biar saja habis ia memang ganteng sih. ”Kamu mau pergi sama aku?”, sekarang tanpa ragu Simen langsung mengajak kencan, siapa yang mau menolak tawaran menggiurkan itu, ”boleh, kapan?” kontan langsung aku jawab ”ya”. ”besok malam ya, aku tunggu di depan rumah kamu”, ”oke sampai ketemu besok malam ya”. Gayungpun bersambut, besok malam akhirnya aku bisa kencan dengan tetangga baruku yang tampan itu.
Ups...sekarang saatnya aku pulang, waktunya makan. Jangan sampai telat atau aku tidak akan kebagian jatah makan. Kalau telat sedikit saja, pastilah anak-anakku akan menghabiskan semua jatah makan siang yang ada dan tak sedikitpun yang disisakan untukku. Biarpun kami ibu dan anak tapi kalau soal makan semua harus berjuang sendiri-sendiri karena hidup adalah perjuangan.
Lama aku berdiri didepan pintu, tidak satupun anak kos yang keluar atau masuk. Aku harus menunggu mereka untuk membukakan pintu agar dapat masuk ke rumahku. Akhirnya ada tamu yang datang sehingga salah seorang anak kos itu ada yang membukakan pintu dan aku dapat masuk.
Sial, ternyata anak-anakku sudah mendapatkan jatah makan siangnya dari salah satu anak kos itu. Lagi-lagi aku terlambat, semua ini karena aku terlalu asyik mengobrol dengan Simen diluar tadi. Kalau sudah seperti ini, aku hanya bisa bersabar menunggu sampai ada anak kos lainnya yang makan dan menyisakan makanannya untukku. Atau aku juga masih dapat berharap kalau-kalau anak-anakku kekenyangan dan mau menyisakan makanannya untukku, sayangnya pilihan kedua ini hampir tidak mungkin terjadi.
Setelah satu jam menahan lapar, akhirnya ada anak kos yang makan dan memberikan sisa makanannya untukku. Akhirnya aku bisa makan dan tidak perlu mengais-ngais tempat sampah, tetapi kali ini aku masih harus berjuang, berebut makanan dengan suamiku. Ia baru saja pulang dan langsung merebut makananku, mau tidak mau harus terjadi sedikit pertengkaran dan perkelahian. Oia nama suamiku Iwan, begitu anak-anak kos itu biasa memanggilnya. Mereka mengartikannya hitam menawan, padahal bagiku biasa saja. Memang sih ia punya kharisma tersendiri, aku sampai luluh dibuatnya. Semua kharismanya itu juga dimilikinya dariku, karena ditubuhnya mengalir darahku juga. Ia memang suamiku, tapi ia juga anakku, incest kata anak-anak kos itu. Mungkin itu juga sebabnya kenapa anak-anakku setelah Iwan banyak yang mati, dan yang tersisa hanyalah Binjo dan Nying-nying. Tetapi aku juga cantik lho, mataku tajam kalau menatap, kulitku putih dengan tubuh yang semampai, banyak pria yang terpesona padaku. Antara aku dan Iwan sebenarnya bukan aku saja yang luluh, dia yang lebih dulu menyukaiku, katanya aku ini seperti bidadari dari khayangan.
Akhirnya aku berhasil memenangkan paha ayam itu dan kenyang. Iwan merengut, tapi siapa yang mau peduli. Ia hanya baik padaku kalau ada maunya saja. Jangan salahkan aku kalau aku juga kencan dengan siganteng Simen tetangga sebelah karena toh ia pun sering berganti-ganti pasangan selain denganku. Orang lain boleh ribut soal poligami tetapi aku dan Iwan tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Poligami ataupun poliandri bukanlah suatu masalah.
Kembali soal Simen, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku pun bersolek, secantik mungkin. Aku tidak mau mengecewakan Simen yang sudah mengajakku berkencan. Melihat aku bersolek, Iwan tidak berkomentar apapun dan ia melewatiku tanpa menoleh sedikitpun. Ya sudah, biarkan kami menjalani hidup masing-masing.
Tepat seperti yang telah dijanjikannya, Simen menungguku di depan rumah. Wow, ia terlihat tampan sekali. ”Kamu cantik sekali malam ini, Obin”, ”terimakasih, kamu juga tampan sekali malam ini”. Pujian Simen tadi membuatku tersipu malu. Wajahkupun memerah karena pujian tersebut. ”ayo berangkat, kita ke taman saja ya”, ”Boleh”. Akhirnya malam itu kami kencan di bawah sinar bulan, duduk di kursi taman dekat rumah kami. Mengapa malam yang romantis selalu terasa begitu cepat, padahal aku tidak ingin mengakhiri malam ini. Terlalu indah untuk diakhiri, dan aku ingin selalu berada dalam suasana romantis ini.
Malam semakin larut, aku dan Simen sebenarnya tidak ingin mengakhiri malam ini, tapi kalau aku dan Simen tidak pulang dan menghabiskan malam di taman ini, berarti kami akan kedinginan sepanjang malam. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang, meskipun dengan berat hati. Kami pulang sambil bergandengan tangan, berjalan dipayungi langit dengan taburan bintang-bintangnya dan diguyur sinar bulan. Aku rasa semua orang yang kami temui di jalan memandang iri pada kami.
Kencan yang benar-benar sempurna antara si cantik dan si tampan. Aku serasa melayang. ”oke kita sudah sampai”, suara Simen membangunkanku dari lamunan, ”oh ya, kamu mau masuk dulu?”, ”nggak usah deh, udah malam. Besok aku kesini lagi ya”, ”oke, aku tunggu”. Tawaran yang sayang untuk dilewatkan pikirku. ”daaagggg...”. akupun mengiringi kepergian Simen dengan lambaian tangan dan senyuman.
Untunglah ada anak kos yang sedang membuka pintu hingga aku bisa langsung masuk dan istirahat, lelah sekali rasanya. Tapi kenapa di dalam ribut sekali sih, anak-anakku menangis, dan apa sih yang sedang dibicarakan anak-anak kos itu?. ”dimana mbak?” anak kos itu menanyakan apa sih ?, ”tadi sore mbak, di jalan depan, mobilnya kabur lagi.” salah satu anak kos berusaha menjelaskan kepada temannya tentang sesuatu yang bagiku terdengar samar-samar. Sambil terisak anak-anakku memberitahu kalau tadi sore Iwan yang merupakan anak sekaligus suami bagiku tertabrak mobil dan nyawanya tidak bisa diselamatkan. Aku langsung lemas mendengar berita itu, langit serasa runtuh, aku tidak kuat lagi untuk berdiri. ”ya Obin kasihan, Iwannya udah nggak ada”, aku masih mendengar komentar beberapa anak kos tentang kematian Iwan. Dunia terasa berhenti berputar. Di dalam kepalaku, bayangan Iwan terus menari-nari. Senyumannya, tawanya, celotehnya dan semua kenangan bersama Iwan bermain di dalam kepalaku. Aku tidak menyesal telah kencan dengan Simen sebelum Iwan meninggal, karena diantara kami memang tidak ada perjanjian yang melarang siapapun untuk berkencan dengan orang lain. Aku tidak perlu memusingkan poliandri ataupun poligami karena aku bukanlah manusia, kami berbeda. Tetapi satu hal, sama seperti manusia atau setidaknya anak-anak kos itu, aku juga sedih atas kematian Iwan, kenapa ia harus mati dengan cara seperti ini? Kenapa ia tidak mati dalam pangkuanku, orang yang telah melahirkannya dan begitu mencintainya sebagai anak ataupun suami dengan sepenuh hati. ”meeeoooowwww....meeeeoooowwww.....” hanya kalimat itu yang dapat keluar dari mulutku karena aku hanyalah seekor kucing. Aku sedih atas kematian Iwan, tetapi aku harus terus hidup demi anak-anakku dan demi kenangan akan Iwan, masih ada Simen yang menungguku.